Perdamaian dimungkinkan ketika rakyat, yang didukung oleh para pemimpin agama dan politik mereka , benar-benar berusaha sebaik mungkin untuk menghidupi prinsip-prinsip iman mereka. Dengan semua kekerasan di Sudan, Pasifik Timur dan Laut Karibia, Haiti, Teluk Persia, Ukraina, Gaza, Tepi Barat, Yerusalem Timur , Lebanon dan Israel , Afghanistan, Nigeria dan Republik Demokratik Kongo, berita dari Vatican News ini menyegarkan dan memberi harapan, serta merupakan contoh sempurna mengapa Yesus menyatakan, "Berbahagialah orang-orang yang menciptakan perdamaian, karena mereka akan disebut anak-anak Allah" (Matius 5:9). Ya Tuhan, teruslah memberkati dan melindungi penduduk Desa Patihombo, Purwosari, Distrik Girimulyo, Indonesia, dan bukalah hati dan pikiran kami untuk belajar pelajaran perdamaian dari mereka.
Di mana Bukit Menoreh membisikkan kedamaian: Toleransi dalam keanggunan yang tenang.
Oleh Stanislaus Jumar Sudiyana
Senja perlahan menyelimuti perbukitan Menoreh, sebelah barat Yogyakarta. Udara menjadi sejuk, membawa aroma tanah lembap dan dedaunan. Di Gereja Paroki Administratif Pelem Dukuh, di Vikariat Yogyakarta Barat, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, lilin-lilin kecil dinyalakan, cahaya sederhana berkelap-kelip lembut melawan kegelapan yang semakin pekat.
Dalam keheningan itu, sekitar 713 umat Katolik memasuki ritme suci Triduum Paskah. Doa-doa mengalir tanpa terburu-buru, seolah waktu itu sendiri berhenti untuk mendengarkan.
Persaudaraan yang tak terucapkan
Namun, malam itu menyimpan kisah yang melampaui liturgi. Di luar bangku gereja, sebuah gerakan yang lebih tenang berlangsung. Para tetangga, pejabat desa, dan pemuda setempat, sebagian besar Muslim, berjaga-jaga. Beberapa memandu kendaraan di sepanjang jalan desa yang sempit, yang lain membantu mengamankan lingkungan sekitar, sementara beberapa lainnya hanya tetap berada di sana, memastikan semuanya berjalan dengan baik. Tidak ada instruksi besar, tidak ada harapan akan pengakuan.
Yang muncul adalah ketulusan, persaudaraan tanpa kata di antara orang-orang. Di desa terpencil ini, sekitar 34 kilometer dari Yogyakarta, toleransi tidak bersuara. Ia bernapas. Ia bertahan.
Paroki Pelem Dukuh merupakan bagian dari Keuskupan Agung Semarang, yang pada tahun 2025 melayani lebih dari 362.000 umat Katolik di 109 paroki. Namun di sini, iman tidak diukur dalam angka. Iman diungkapkan dalam perilaku—dalam tindakan-tindakan kecil dan sadar yang dilakukan berulang kali.
Di Desa Patihombo, Purwosari, Distrik Girimulyo, keharmonisan bukanlah sesuatu yang baru dibangun. Itu adalah warisan.
Kepala Desa Sri Murtini, seorang Muslim, merenungkan tradisi yang telah terbentuk lintas generasi. Perbedaan keyakinan bukanlah garis pemisah, melainkan benang-benang yang menjalin kehidupan bersama.
Toleransi adalah memori kolektif.
“Kami telah hidup seperti ini sejak lama. Bahkan dalam satu keluarga, orang-orang mungkin menganut agama yang berbeda, dan itu tidak pernah menjadi masalah. Ini mengajarkan kita rasa hormat,” katanya pada hari Sabtu (4 April 2026).
Baginya, toleransi bukanlah sebuah program atau slogan. Toleransi adalah ingatan kolektif—yang dilestarikan, dipraktikkan, dan diwariskan. Sebuah pemahaman yang tenang bahwa perdamaian harus dijaga, seperti tanah yang tidak boleh dibiarkan tandus.
Semangat serupa juga diungkapkan oleh pemimpin komunitas Suryadi. Ia mengenang, selama Idul Fitri, para pemuda Katolik ikut serta dalam menjaga kelancaran salat, memastikan tetangga Muslim mereka dapat beribadah dengan tenang.
“Kita saling menjaga satu sama lain. Hari ini kita membela mereka; besok mereka membela kita. Ini bukan sekadar kewajiban—ini adalah bagian dari jati diri kita,” katanya.
Dalam timbal balik seperti itu, perbedaan kehilangan jaraknya. Yang tersisa adalah kepercayaan. Dengan demikian, ketika Paskah tiba, maknanya tidak berakhir di altar. Maknanya meluas ke luar, ke dalam tindakan, ke dalam kesediaan sederhana untuk hadir bagi satu sama lain.
Hakikat kemanusiaan
Pastor Martinus Suharyanto, yang memimpin Misa Malam Paskah, melihat dalam kebersamaan ini sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar toleransi. Ia melihat cinta dalam bentuknya yang paling mendasar.
“Apa yang kita saksikan di sini lebih dari sekadar hidup berdampingan. Ini adalah persaudaraan. Ketika orang-orang dari berbagai kepercayaan datang untuk melindungi, melayani, dan memastikan orang lain dapat beribadah dengan damai, itulah esensi kemanusiaan,” katanya dalam sebuah pesan kepada Sonora.id .
Ia juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada polisi, militer, pejabat desa, dan warga yang membantu memastikan kelancaran pelaksanaan Pekan Suci.
“Semoga semua kebaikan ini kembali sebagai berkah,” tambahnya pelan.
Di ujung barat wilayah ini, berbatasan dengan Purworejo, kehidupan berlangsung dalam ritme yang sederhana namun mendalam. Pertemuan antaragama bukanlah hal yang luar biasa—melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kedamaian tidak lahir dari kesamaan.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia, umat Katolik berjumlah sekitar 4,3 persen dari total penduduk, atau sekitar 164.685 jiwa. Meskipun jumlahnya minoritas, mereka merupakan bagian penting dari kekayaan keberagaman Indonesia.
Di dunia yang sering kali diguncang oleh perbedaan, desa kecil ini menawarkan pelajaran yang tenang: perdamaian tidak lahir dari kesamaan.
Hal itu tumbuh dari kemauan untuk peduli terhadap perbedaan.
Toleransi terwujud dalam pilihan untuk saling mendukung. Dan saat malam semakin gelap di atas Bukit Menoreh, cahaya lilin tetap menyala—tetap teguh, setia, tak padam oleh kegelapan. Di Pelem Dukuh, toleransi bukan hanya sekadar ucapan. Toleransi diwujudkan dalam kehidupan.
No comments:
Post a Comment